Coba kita ingat kembali apa yang pertama kali menarik perhatian kita saat melintas sebuah ruangan yang dindingnya terpampang sebingkai foto? Atau saat membolak-balikan halaman koran atau majalah yang menampilkan foto pada salah satu sisi ruang memakai kata delusi (delusion; khayalan). Delusi ini tergambar secara sadar (dan bahkan Lewis sendiri heran) pada sebuah nama yaitu, Amelia. Ia menulis, kenapa begitu, saya halamannya? Sekali lagi apa yang pertama kali menarik perhatian anda?
Menurut Roland Barthes dalam bukunya Camera Lucida (1981) bahwa sebuah foto senantiasa terdiri dari dua unsur yaitu, studium dan punctum. Studium bisa diartikan sebagai suatu kesan keseluruhan yang akan mendorong seorang pemandang untuk segera memutuskan apakah sebuah foto bersifat politis atau historis, indah atau tak indah yang sekaligus juga mengakibatkan reaksi suka atau tidak suka. Sedangkan Punctum adalah fakta terinci dalah sebuah foto, sehingga ia kan terus menerus dipandang dan diingat oleh orang yang memandangnya.
Kalau boleh dibilang, foto Robert Cappa yang berjudul Matinya Seorang Serdadu Loyalis (1936) adalah contoh dari pengategorian Barthes atas konsep Punctumnya ini. (Seno dalam buku Kisah Mata-nya dalam konteks yang berbeda juga menyebut foto ini sebagai contoh dari konsepsi Henri-Cartier Bergson yaitu Decisive Moment).
Oke.. baiklah kali ini mari kita batasi dalam hal estetika atau dalam bahasa Barthes unsur Studiumnya (meski Barthes memaksudkan studium lebih luas dari sekadar estetik).
Lewis Carrol (1832-1898) fotografer portrait yang juga penulis buku Alice's adventures in Wonderland dan Through the Looking Glass, menyatakan bahwa kecantikan (baca;keindahan) semata-mata berada dalam pikiran kita. Untuk melukiskan hal ini dia heran, bahwa saya suka atas nama Amelia lebih dari kata apapun dalam bahsa Inggris.
Saya ingin memaknai ungkapan Lewis tersebut sebagai sebuah kiasan. Bahwa seringkali kita memandang keindahan itu sebagai "di luar sana"; artinya ya, sedemikian itulah yang indah, sedangkan yang lain tidak indah (seperti Lewis patokkan dalam kata "Amelia"). Tapi salahkah itu?
Inilah yang menjadi polemik antar kaum rasionalis dengan kaum empiris. Atau lebih dekat lagi antara kaum idealis dengan kaum materialis. Apakah keindahan itu sudah ada dalam pikiran kita sejak kita lahir ataukah kitara baru bisa memilah mana yang indah dan yang tidak indah setelah kita bersentuhan dengannya melalui pengalaman?
Entahlah sobat, saya pikir itu sama saja dengan tebak-tebakan kita saat masih kecil bahwa "mana yang lebih dulu; ayam atau telur?".
Hmm..jika anda berpikiran sama sepertihalnya saya berarti anda terlalu apriori terhadap fenomena sekitar anda.
(Dikutip dari Wikipedia.org)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar