Sabtu, 17 Mei 2008

AWAS “MEREKA” SEDANG MENJAJAH PIKIRAN KITA

Setiap hari hidup kita tidak pernah lepas dari televisi, karena televisi itu salah satu media yang paling mudah di jangkau oleh masyarakat kelas atas, hingga masyarakat kelas menengah. Bayangkan saja, mulai dari kita membuka dan menutup mata banyak sekali tayangan-tayangan sinetron dan gossip-gossip selebriti yang sering kali ditayangkan di Televisi. Tetapi itu bukanya baik buat kita konsumsi, malahan bisa menjadikan dampak negatif bagi kita. Acara sinetron yang sering kita lihat di layar kaca, memberikan efek negatif bagi si penonton, mungkin sebagian masyarakat melihat tayangan sinetron untuk sebuah hiburan atau untuk mengisi waktu luang, tetapi di balik itu semua “MEREKA” sedang menjajah pikiran kita alias “CUCI OTAK” secara tidak langsung. Dengan sajian yang khas “MEREKA” menyediakan menu-menu siaran yang sedang di gemari oleh kawula muda (A B G) jaman sekarang, dan yang na'as nya mereka malah menelan mentah-mentah tayangan tersebut dan dampaknya mereka meniru gaya hidup yang glamour dan pada akhirnya mereka cenderung menjadi masyarakat konsumsi yang hanya berposisi sebagai ”pembeli” bukan ”pembuat”. Pembeli hanyalah objek, target sasaran. Dia ditentukan dan bukan menentukan. Apa buruknya masyarakat konsumsi? Bahaya terbesar dari hal itu adalah munculnya masyarakat yang tidak memiliki karakter kemandirian. Ketika tidak ada lagi yang bisa diolahnya untuk menopang daya konsumsinya, maka yang terjadi adalah ketergantungan dan anomali. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang tidak memiliki ketahanan budaya, tanpa identitas, masyarakat komunal dan beragam. Ia tidak mengenali lingkungannya karena hidup dianggap berpusat pada dirinya, memburu kesenangan pribadi dan mempersetankan kitaran.

kuchay


Ku duduk, terpaku, melihat ke layar kaca,
Menangis, tersenyum, melihat tingkah pola mereka.
Tubuh tubuh berbalut pakaian mini,
Membuat diri ku semakin hilang kendali,
Nah ini dia, juga film India, memenuhi kepala dengan paha dan dada,
Hari hariku tak pernah terisi ideologi,
Karena selalu menonton acara begini,
Hey Punjabi, tak ada akal pun jadi,
Mengapa kau buat film-film seperti ini,
Demi uang kau jual harga diri,
Mending kau jualan nasi di pinggir kali,
Lebih menarik, lebih bergengsi, lebih menarik dan juga lebih bergengsi

Reff: Hey,Hey Bollywood ada di sini
Hey,Hey Indonesia hilang citra diri
Hey,Hey Hollywood ada disini
Hey,Hey Indonesia hilang citra diri

Ada lagi kakaknya Bollywood, itu dia yang namanya Hollywood
Membuat dunia semakin semrawut, lebih baik kudengar Seruling Daud,
Cewek cewek bergaya seperti Anderson, memang yang haram haram kuat seperti Tyson
Kurang cantik tinggal operasi plastik, bisa bisa badanmu semakin menarik,
Kini otak tak lagi dilirik, karena semua diukur dengan fisik,
Mengapa semua ini bisa terjadi?, karena akhlak pun memang telah tersisih,
Apapun yang telah terjadi kini, kupilih jalanku sendiri teman,
Mengapa semua ini bisa terjadi, apapun yang telah terjadi kupilih jalanku sendiri.

( lirik dari lagu “anti sinetron” oleh CCCC)


Abstraksi
  • "Televisi adalah wahana hiburan yang memungkinkan jutaan orang
    mendengarkan lelucon pada saat yang sama, dan tetap kesepian."
    T.S. Eliot

  • "Tahukah kau, kita diatur oleh TV?"
    dari puisi Seorang Pendo'a Amerika Jim oleh Jim Morisson


(Abstraksi dikutip dari buku "Matikan TV-Mu!")



Image Hosted by ImageShack.us



Tidak ada komentar: